http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1302760693/64878/Kucek-kucek-jasa-laundry-potensi-laba-tercium-wangi

Usaha laundry memang bukan usaha baru. Sejak era 1990-an, usaha ini semakin ramai. Apalagi, pengguna jasa ini bukan lagi terbatas kalangan atas, melainkan juga menengah ke bawah. Berarti, pasar bisnis ini memang kian membesar. Anda juga tertarik?

Keluarga muda yang supersibuk, mahasiswa, juga pekerja lajang cenderung emoh repot dan emoh capek dalam urusan cuci–setrika pakaian. Tak pelak, keberadaan jasa pencucian pakaian alias laundry sangat mereka rasakan manfaatnya. Apalagi, ada tawaran laundry kiloan yang harganya jauh lebih murah.

Pengamat pemasaran dari Prasetiya Mulya Business School Istijanto Oei mengatakan, bukan hanya alasan air langka atau mahal, melainkan juga lantaran orang yang tidak mau repotlah yang menyebabkan usaha laundry terus subur. Apalagi, banyak orang, seperti para karyawan atau mahasiswa, memiliki mobilitas dan kesibukan yang tinggi.

Kemunculan laundry kiloan pun menjadi faktor pendorong pasar semakin besar. “Ini menyebabkan laundry bisa menyasar ke kalangan yang lebih bawah,” katanya. Sebelum era jasa cuci murah meriah ini, jasa laundry dipersepsikan mahal karena dihitung per potong.

Istijanto menuturkan, prospek usaha ini masih bagus kendati pabrikan mesin cuci terus meluncurkan produk yang semakin canggih. Tren apartemen dengan luas unit yang kecil menyebabkan banyak penghuni tidak memiliki mesin cuci. Jadi, jasa laundry tetap jadi pilihan.

Pelaku usaha laundry dari Yogyakarta, Agung Nugroho Susanto, mengatakan, usaha ini masih potensial dikembangkan. “Mobilitas orang semakin tinggi, tidak mau direpotkan dengan mencuci. Meski ada pembantu, mereka tidak sepenuhnya menyerahkan tugas mencuci karena untuk pakaian tertentu takut rusak, lebih prefer ke laundry,” papar Direktur Pengelola Simply Fresh ini. Logikanya, jika tidak ada permintaan, tentu tidak akan banyak pemain baru.

Pengusaha laundry di Jakarta, Heri Ariyadi, sepakat. “Karena ada permintaan itulah kami mulai menawarkan kemitraan,” kata pemilik Tiara Laundry ini. Yang jelas, usaha ini masih menguntungkan, satu gerai Tiara Laundry dalam sebulan masih bisa mencetak omzet
Rp 30 juta sedangkan workshop-nya bisa meraih omzet Rp 70 juta. Adapun, keuntungan yang dia peroleh bisa mencapai 30%–45% dari omzet.

Jika tertarik membuka jasa laundry, ada beberapa tawaran kemitraan yang bisa Anda timbang. Jangan lupa, silakan cermati secara kritis, ya.

Tiara Laundry

Menyadari peta persaingan usaha laundry kian ketat, Tiara Laundry menggagas laundry sehat untuk menarik konsumen. Tiara Laundry mengklaim, salah satu kelebihannya adalah memakai proses neutralize yang mampu menetralkan sisa-sisa kimia pada kain, mencegah warna kusam, dan iritasi kulit. “Ini baik untuk konsumen yang kulitnya sensitif,” kata Heri.

Tiara Laundry juga menggunakan proses antiseptik dan menawarkan brightening white atau proses pemutihan pakaian yang kusam dalam sekali cuci. Tak cuma itu, ada juga tawaran baby care atau proses pencucian khusus untuk baju bayi, mengingat pakaian bayi butuh perlakuan khusus supaya steril dan rendah iritasi.

Dengan kelebihan yang dimiliki, Tiara mengaku menerima banyak pelanggan. Sebab, meskipun menggunakan konsep kiloan, Tiara Laundry tetap memberikan kualitas cucian yang melalui proses sehat. “Selama ini, kan, orang mempersepsikan laundry kiloan, ya, hanya laundry yang dicuci kiloan. Kami, meski kiloan, fokus ke proses sehatnya,” ujar Heri berpromosi.

Hingga saat ini segmen Tiara Laundry hanya menengah ke atas. Karena itu pula hampir seluruh gerai Tiara Laundry ada di sekitar apartemen. Kalangan ini lebih peduli dengan kesehatan dan tidak mau repot. Soal harga, Tiara Laundry mematok Rp 8.000–Rp 12.000 per kilogram (kg) pakaian.

Tiara Laundry menawarkan dua pilihan waralaba, yakni paket gerai dan workshop. gerai hanya menjadi agen menerima cucian. Adapun workshop termasuk pula proses pencucian. Untuk paket gerai, Tiara mematok investasi sebesar Rp 25 juta. Sementara, untuk paket workshop, investasi yang dia tetapkan Rp 70 juta, Rp 115 juta, Rp 125 juta, dan Rp 150 juta. “Semua kebutuhan kami sediakan. Investasi itu sudah termasuk peralatan, perlengkapan gerai, karyawan, plus renovasi,” ujar Heri. Mitra hanya menyiapkan lokasi yang strategis.

Heri mengungkapkan, perbedaan tawarannya ketimbang tawaran kemitraan lain adalah Tiara Laundry tidak melepaskan mitranya begitu saja. “Promosi, operasional, dan order akan kami bantu selalu. Karena itu pula, saat ini kami masih fokus di Jakarta. Sebab manajemen masih dari pusat. Kami akan memastikan gerai berkembang dulu,” ujar dia.

Maklum, Tiara Laundry mendapatkan penghasilan dari management fee dari mitranya, sehingga tak mau gegabah jorjoran menggenjot penambahan gerai waralaba. Dengan sistem tersebut, mitra terbantu dalam mencari konsumen. Sebagai “ongkos”, mitra tetap menyisihkan 6% dari total omzet per bulan untuk membayar management fee.

Selain membayar management fee, mitra workshop harus membayar karyawan Rp 1 juta– Rp 2 juta per orang, tagihan listrik dan air sekitar Rp 6 juta, serta sewa tempat Rp 40 juta per tahun. Tentu saja biaya transportasi, detergen, pewangi juga harus diperhitungkan, kurang lebih Rp 3 juta per bulan.

Karena Tiara Laundry membidik segmen menengah atas, lokasi usaha yang disarankan di sekitar apartemen. Konsekuensinya, ongkos sewa relatif mahal. Sudah begitu mitra workshop untuk konsep workshop, yaitu 80 meter persegi (m²).

Simply Fresh

Merek jasa laundry yang satu ini sudah cukup kuat. Gerainya saja sudah mencapai 170 tempat. Simply Fresh mengklaim menyediakan kemudahan dalam hal teknologi. Yang terbaru adalah alat khusus penghitung pakaian sehingga penghitungan lebih cepat. Dari sisi layanan, timbangan pakaian langsung terkoneksi ke komputer.

Untuk memikat pelanggan, Simply Fresh berani menggaransi hasil cucian. Bila masih kotor, akan dicuci menggunakan teknologi ultraviolet (UV). Berbekal brand dan harga terjangkau, Simply Fresh percaya diri menawarkan waralaba. “Segmen kami juga lebih luas. Mitra juga bisa membuka lokasi di mana saja asal strategis,” ujar Agung.

Paket investasi yang ditawarkan untuk konsep gerai bervariasi, mulai dari Rp 109 juta, Rp 129 juta, Rp 170 juta, hingga Rp 305 juta untuk paket platinum. Investasi baru tersebut sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta beserta fasilitas, berupa mesin cuci, reklame, rak, komputer, dan bahan baku awal untuk laundry. Investasi ini belum termasuk biaya sewa, kirim peralatan, survei, dan akomodasi trainer yang diasumsikan mencapai Rp 8 juta.

Gerai ini melayani jasa mencuci sampai menyetrika pakaian. Simply Fresh tidak menawarkan paket investasi untuk agen yang hanya bertugas mengumpulkan pakaian kotor. “Untuk buka agen diserahkan sepenuhnya pada mitra. Mau buka silakan, tidak juga tidak apa-apa,” kata Agung.

Saat ini setiap gerai bisa meraih omzet Rp 20 juta–Rp 30 juta per bulan dengan cucian 130 kg per hari. Adapun pengeluaran per bulan sekitar Rp 17 juta. Biaya ini termasuk royalty fee 8% dari omzet, sewa tempat, bahan baku, listrik dan air, dan gaji karyawan. Jadi, dengan asumsi omzet Rp 30 juta, keuntungan yang diperoleh sekitar Rp 13 juta per bulan. Alhasil, mitra bisa mencapai titik impas dalam 10 bulan.

Berbeda dengan Tiara, Simply Fresh menyerahkan seluruh pengelolaan usaha pada si mitra. Simply Fresh tidak mencampuri manajemen usaha. Mereka hanya membantu menganalisis dan melakukan pelatihan ulang bila gerai sepi. Agar tak tutup di tengah jalan, Anda harus yakin betul lokasi Anda memiliki pasar yang kuat.

Cermat membangun usaha laundry

Istijanto menyarankan, bagi mereka yang ingin membuka usaha laundry sebaiknya memilih lingkungan hunian yang baru dibangun. Ini penting karena membuka di hunian baru otomatis belum ada pesaing. “Usahakan menjadi pionir supaya mampu merangkul pelanggan sejak dini, sehingga ada ikatan emosional,” ujar dia.

Bila usaha ini sudah berjalan, Anda harus mempertahankan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan tercermin dari kualitas yang memenuhi mutu dasar jasa laundry, yaitu harus bersih, tersetrika rapi, tidak ada kerusakan di pakaian, aroma harum, selesai tepat waktu, dan layanan ramah. Anda juga harus mengikuti sistem yang ada di industri laundry, misalnya jika sistem harga yang laku saat ini adalah kiloan, maka mau tidak mau jasa laundry yang sudah ada juga menerapkan praktek harga yang sama.

Bila ingin menjadi terwaralaba, perhitungkan dengan cermat nilai investasi yang mesti disediakan dan perkiraan balik modalnya. Salah satu keuntungan menjadi terwaralaba adalah mendapat brand yang sudah mapan, tapi Anda akan terikat membayar biaya waralaba dan royalti.

Anda pun harus mematuhi serangkaian aturan, termasuk bila ada kewajiban membeli produk pewangi atau detergen ke pewaralaba. Sementara itu, bila membuka sendiri, skala usaha bisa disesuaikan dengan kekuatan modal Anda dan tidak terikat. Namun, Anda tetap harus mengenalkan dan menguatkan merek untuk meraih kepercayaan konsumen.

Istijanto menilai, tawaran antiseptik atau UV hanya menambah pilihan bagi pelanggan, tapi tak merombak pasar laundry. Ini berbeda dengan harga kiloan yang mampu mengubah pasar. Nah, tugas pengelola laundry mencari program-program terobosan baru. “Misalnya mobile laundry atau laundry di tempat agar orang datang ke tempat laundry dan me-laundry sendiri pakaiannya,” saran dosen sekolah bisnis ini.

About tiaralaundry

Solusi Cerdas Cuci Profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s